Kamis, 27 Februari 2020

Kisah Raja Harun al-Rasyid dan Abu Nawaz; Antara Ikan dan Bintang di Langit

Ilustrasi Abu Nawas & Harun al-Rasyid
Nama Abu Nawas sudah tak asing dalam cerita sastra Islam. Dia memiliki nama Abu-Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami yang hidup di tahun 756-814 M.
Abu Nawas hidup di masa khalifah Harun Al-Rasyid, kalifah kelima dari kekalifahan Abbasiyah yang pusat pemerintahannya di Bagdad.
Dalam karya sastra 1001 malam, sosok Abu Nawas selalu disebut. Maklum, Abu Nawas terkategori sebagai salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik yang digambarkan sebagai sosok yang bijaksana sekaligus kocak.
Hubungan Raja Harun Al-Rasyid dan Abu Nawas terjalin akrab. Dalam beberapa kisah, Raja Harun Al-Rasyid dan Abu Nawas ibarat sepasang. Saling mengisi cerita inspiratif.
Dalam suatu waktu, Raja Harun Al-Rasyid kelihatan amat murung. Itu terjadi beberapa hari dialami sang raja
Para ajudan dan staf kerajaan tak mampu menghiburnya.
Ada dua pertanyaan Raja yang tak mampu dijawab oleh semua menterinya.
Lalu para penasehat memutuskan untuk memanggil Abu Nawaz.
Para pengawal Raja Harun bercerita kepada Abu Nawaz bahwa akhir-akhir ini Baginda Raja sulit tidur karena diganggu oleh keingintahuan menyingkap dua rahasia alam.
Setelah dihadapkan ke Raja, Abu Nawaz matur;
“Tuanku yang mulia, sebenarnya rahasia alam yang manakah yang Paduk amaksudkan ?”
“Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua hal yang selama ini mengganggu pikiranku,” kata
Baginda Raja.
“Bolehkah hamba mengetahui kedua hal yang mengganjal pikiran Paduka ?,” tanya Abu Nawaz.
Lalu Baginda Raja bertitah:
“Yang pertama, dimanakah sebenarnya batas jagad raya ciptaan Tuhan itu ?”
“Di dalam pikiran kita, wahai Paduka yang mulia,” jawab Abu Nawaz.
Tuanku yang mulia, lanjut Abu Nawaz;
“Ketidak terbatasan itu ada karena adanya keterbatasan. Dan keterbatasan itu ditanamkan oleh Tuhan di dalam otak
manusia. Dari itu manusia tidak akan pernah tahu dimana batas jagad raya ini. Sesuatu yang terbatas tidak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas.”
Mendengar penjelasan rinci Abu Nawas, Baginda Raja tersenyum lega.
Kemudian Baginda Raja melanjutkan pertanyaan yang kedua;
“Wahai Abu Nawaz, manakah yang lebih banyak jumlahnya; bintang-bintang di langit ataukah ikan-ikan di laut ?”
“Ikan-ikan di laut,” jawab Abu Nawaz dengan tangkas dan cerdas.
“Bagaimana kau bisa langsung memutuskan begitu. Apakah engkau pernah menghitung jumlahmereka ?” tanya Baginda Raja, heran !
“Paduka yang mulia, bukankah kita semua tahu bahwa ikan-ikan itu setiap hari ditangkap dalam jumlah besar. Namun jumlah mereka tetap banyak. Seolah-olah tidak pernah berkurang karena saking banyaknya. Sementara bintang-bintang itu tidak pernah rontok ,jumlahnya tetap saja !” begitu Abu Nawaz meyakinkan Baginda Raja.
Mendengar seluruh jawaban cerdas Abu Nawaz, Baginda merasa senang dan sirnalah apa yang mengganjal pikiran Raja Harun Al-Rasyid selama ini.
Baginda Raja akhirnya menghadiahkan uang yang cukup banyak untuk Abu Nawas dan keluarganya.
Diolah dari berbagai sumber

Kisah Abu Nawas; Menolak Hadiah


Kisah Abu Nawas; Menolak Hadiah

Kisah Abu Nawas; Dunia ini adalah tempat persinggahan yang sementara. Mempunyai harta banyak tidak di larang dalam agama Islam. Namun mencintai harta dan melupakan Tuhan lah yang sangat hina dalam agama Islam.
Suatu ketika Abu Nawas dipanggil oleh Raja Harun Al Rasyid di istana kerajaan dan terjadilah percakapan di antara keduanya.
Rupanya kali ini Abu Nawas sedang memperingatkan rajanya perihal harta dunia yang tidak akan dibawa mati ke kuburan karena Abu Nawas mengetahui jika baginda ingin menjadikan ia sebagai saudara dengan memberikan banyak hadiah dan fasilitas kepada Abu Nawas.
Baca juga: Rahasia Alam Semesta; Delapan Jenis Kunci Surga
Sesampainya di istana kerajaan, Abu Nawas dengan santainya langsung menegur  baginda raja tanpa basa-basi terlebih dahulu.
“Wahai Amirul Mukminin, bagaimana nanti jika Allah swt menghadapkan Anda di hadapan-Nya, lalu meminta pertanggungjawaban Anda tentang lalat hitam, burung kenari dan kulit ari.” Kata Abu Nawas kepada Raja Harun.
Begitu mendengar penuturan Abu Nawas yang tiba-tiba itu, menyebabkan Raja Harun Al Rasyid sedih, sehingga menangis tersedu-sedu. Melihat rajanya bersedih, salah seorang kepala pengawal segera bertindak dengan memarahi Abu Nawas.
“Wahai Abu Nawas, engkau diamlah, engkau telah menyakiti hati sang Raja!” Bentak kepala pengawal kerajaan kepada Abu Nawas.
“Biarkan dia!” Kata Raja Harun.
“Sebenarnya yang merusak dan menyakiti itu Anda”, kata Abu Nawas dengan berani.
“Begini Abu Nawas, saya ingin mengikat tali persaudaraan denganmu dengan pemberian fasilitas dan hadiah-hadiah.” Kata Raja Harun Al Rasyid.
“Kembalikan saja semua harta ketempat semula yang hendak paduka berikan kepada hamba”, jawab Abu Nawas.
“Lalu bagaimana dengan kebutuhanmu?” Tanya Raja Harun.
“Aku ingin Anda tidak melihatku dan akupun tidak melihat paduka. Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, Aiman bin Nail dari Qudamah bin Abdullah al-Kalaby pernah berkata, Aku telah melihat Rasululah SAW melempar jumrah Aqabah di atas ontanya yang kemerah-merahan, tanpa ada pukulan dan tidak pula dengan pengusiran.” Jawab Abu Nawas.
Setelah berkata demikian, Abu Nawas pun segera meninggalkan istana.
Wahai pembaca yang budiman! Dunia ini adalah tempat persinggahan yang sementara. Mempunyai harta banyak tidak di larang dalam agama Islam. Namun mencintai harta dan melupakan Tuhan lah yang sangat hina dalam agama Islam. Jika kita mempunyai harta yang banyak, jangan lupa untuk menyisihkan dan membelanjakan harta kita di jalan Islam seperti halnya yang dilakukan oleh Bunda Siti Khadijah.

Abu Nawas, Kuah Dibalas Makjun


Di mata Khalifah Harun al-Rasyid figur Abu Nawas memang lihai, dia tidak hanya lucu tetapi juga bijaksana sehingga tidak dapat dipandang enteng. Di satu pihak hal itu sangat membanggakan khalifah, tetapi di lain pihak, sangat menjengkelkannya, karena ia suka kurang ajar dan tidak tahu diri. Oleh karena itu baginda tidak pernah berhenti memeras otak untuk dapat membalas Abu Nawas.
Pada suatu hari di bulan Rabiulawal, baginda khalifah tersenyum simpul sendiri sambil bergumam, “Awas kau, Abu Nawas, kali ini pasti kena.”
Seperti biasa setiap bulan Rabiulawal, Sultan Harun Al-Rasyid menyelenggarakan acara Maulid Nabi di istana. Pada saat itu semua pembesar negeri hadir termasuk putra-putra mahkota dari negeri-negeri sekitarnya, tapi Abu Nawas tidak tampak.
“Panggil dia kemari,” perintah khalifah kepada punggawa.
Setelah Abu Nawas datang menghadap, dimulailah acara hari itu. Semua hadirin dipersilahkan berdiri, kemudian masing-masing disirami air mawar yang menebarkan bau sangat harum, kecuali Abu Nawas. Ia disiram dengan air kencing.
Sadarlah Abu Nawas, bahwa dia dipermalukan khalifah didepan para pembesar negeri. Ia bungkam seribu basa, namun di dalam hati ia berkata, “Oke, khalifah, hari ini kau beri aku kuah, esok akan kubalas kamu dengan isinya.”
Selesai upacara, semua orang pamitan kepada baginda dan pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Abu Nawas.

Sejak itu Abu Nawas tidak pernah menginjakkan kakinya ke Istana. Tak kurang khalifah pun rindu berat kepadanya. Karena bagaimanapun Abu Nawas selalu dapat menghibur hatinya. Ada saja celotehan-celotehan Abu Nawas yang membuat suasana balairung jadi hidup.
Ketika khalifah memanggilnya, Abu Nawas tidak bersedia memenuhi panggilan itu, dengan alasan sakit, meski panggilan tersebut disampaikan terus menerus. Setiap kali punggawa datang setiap kali itu pula Abu Nawas bilang sakitnya makin serius.
Baginda pun khawatir dengan sakitnya Abu Nawas, maka ditengoknya Abu Nawas ke rumahnya di iringi beberapa orang petinggi kerajaan.
Mendengar khalifah menuju ke rumahnya, Abu Nawas buru-buru pasang aksi. Mata terpejam, badan tergeletak lemah lunglai. Namun sebelum itu ia telah menyuruh istrinya menyiapkan obat makjun, ramuan obat yang dibuat seperti dodol bulat, dan dua butir di antaranya dibubuhi tinja. Abu Nawas menelan sebutir obat itu ketika baginda sudah sampai di depannya.
“Hai Abu Nawas, apa yang kamu telan itu?” tanya khalifah.
“Inilah yang disebut obat makjun,” jawab Abu Nawas masih dalam posisi telentang. “Resepnya hamba peroleh tadi malam lewat mimpi. Seorang tua menghadap hamba dan berpesan agar obat makjun ini hamba telan dua butir, niscaya sembuh,” setelah Abu Nawas menelan sebutir lagi dan tampak badannya segar layaknya orang sembuh dari sakit.
“Kalau begitu aku juga mau makan obat makjun itu,” kata khalifah.
“Baiklah, tuanku,” kata Abu Nawas. “Bila paduka akan menelan obat ini, hendaklan berbaring seperti hamba sekarang ini, tidak boleh sambil duduk, apalagi dengan berdiri.”
Maka baginda pun berbaring.
“Pejamkan mata tuanku,” kata Abu Nawas.
Begitu mata Sultan terpejam, Abu Nawas cepat-cepat memasukkan butiran makjun itu ke mulut khalifah. Tiba-tiba khalifah bangkit karena obat itu menyangkut di batang tenggorokannya. Sambil membelalakkan matanya, Sultan berkata keras-keras. “Hai, Abu Nawas, kamu beri aku makan tinja ya?”

Maka Abu Nawas pun menghormat sambil berkata, “Dulu baginda memberi hamba kuahnya, sekarang hamba memberi baginda isinya. Jikalau baginda tidak memberi hamba uang seratus dinar, kejadian ini akan hamba ceritakan kepada khalayak ramai.”
“Diam kamu, jangan ngomong kepada siapa-siapa, nanti ku beri kau uang seratus dinar ,” kata khalifah.
Setelah itu khalifah dan semua pengiringnya kembali ke Istana, menyiapkan pundi-pundi berisi uang seratus dinar.
Referensi kisah dari Alkisah Nomor 08 / 12-25 April 2004

Abu Nawas dan Kisah Botol Ajaib

Abu Nawas dan kisah sebuah botol menjadi kisah yang menyegarkan hati kita


Abu Nawas dan Kisah Botol Ajaib

Suatu hari Baginda Raja Harun Ar-Rosyid memanggil Abu Nawas ke istananya untuk diberi tugas. Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan senyuman.
“Akhir-akhir ini aku sering merasakan perutku sakit, kata tabib istana, aku terkena serangan angina,” kata Raja.
Abu Nawas sedikit keheranan, lalu bertanya, “Ampun Baginda, kiranya apa yang bisa hamba lakukan untuk Yang Mulia?”
“Tangkap dan penjarakan angin itu untukku!” Perintahnya.
Abu Nawas diam sejenak.
“Aku beri kau waktu tiga hari untuk menyelesaikan perintah ini,” tambah sang Raja.
Abu Nawas kemudian pulang dengan membawa pekerjaan dari Raja Harun Ar-Rosyid. Ia masih terdiam, mulutnya terkunci rapat tak mengeluarkan sepatah katapun. Dalam kebingungan yang tidak habis-habis, ia belum bisa memikirkan bagaimana cara menangkap dan membuktikan bahwa itu memang benar-benar angin.
Menurutnya, hanya anginlah satu-satunya benda aneh yang tidak berwarna dan tidak bisa dilihat seperti halnya air, yang masih bisa diindera.
Sudah dua hari ini, tetapi Abu Nawas masih belum bisa mendapatkan cara untuk menangkap angin, bahkan memenjarakannya. Abu Nawas hampir putus asa dan tidak bisa tidur, karena waktu yang telah ditentukan tinggal sehari lagi. mungkin kali ini ia akan menerima hukuman karena tidak bisa melaksanakan perintah Baginda.
Ia mondar-mandir memikirkan cara, tiba-tiba ia tersadar dan berkata kepada dirinya sendiri “Bukankah jin itu tidak terlihat?”
Ia berjingkrak dan menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan dan berjalan menuju istana kemudian menyerahkan sebuah botol kepada Baginda.
“Mana angin itu, Abu Nawas?” Tanya Baginda.
“Ada di dalam, yang mulia,” jawab Abu Nawas.
“Benarkah? Aku tidak melihat apa-apa,” kata Sang Raja.
“Ampun Baginda, angin tidak bisa dilihat, tetapi jika Tuanku ingin tahu angin, tutup botol tersebut harus dibuka terlebih dahulu,” jawab Abu Nawas.
Setelah tutup botol itu dibuka, Raja mencium bau busuk. Dengan marah ia berkata kepada Abu Nawas,”Bau apa ini, Abu Nawas?”
“Ampun Baginda, tadi hamba buang angin lalu hamba masukkan ke dalam botol tersebut. Karena takut angin yang hamba masukkan itu keluar, maka hamba memenjarakannya dengan menyumbat botol dan menutupnya,” kata Abu Nawas dengan sangat ketakutan. Tapi, Raja tidak jadi marah, karena apa yang dikatakan Abu Nawas memang masuk akal.
Dan begitulah, ia selama. Sang Raja pun memberikannya hadiah.

Kisah Abu Nawas Mencari Neraka

Sejak usai salat zuhur sampai menjelang magrib tadi, Abu Nuwas keliling Baghdad sambil membawa lampu penerang.

Di setiap sudut rumah dia berhenti, celingak-celinguk kanan-kiri, sambil tangannya yang membawa lampu minyak digoyang-goyangkan. Setelah itu dia kembali berjalan dengan lampu tetap di tangan.
Tingkah Abu Nuwas ini tentu saja menggegerkan penghuni Baghdad. Bagaimana mungkin orang secerdas Abu Nuwas berjalan di siang hari ketika sinar matahari menyorot tajam sambil membawa lampu? 

‘’Abu Nuwas mulai gila,’’ kata seorang warga Baghdad.
‘’Khalifah Harun Al-Rasyid pasti malu punya staf ahli gila,’’ celetuk yang lain.
Tapi Abu Nuwas tak peduli. Esok harinya lagi-lagi pujangga Baghdad itu keluar rumah, kali ini bahkan lebih pagi, sambil tetap membawa lampu minyak. Dia tak bersuara dan terus bekerja: celingak-celinguk kanan-kiri, sambil tangannya yang membawa lampu minyak digoyang-goyangkan.
Di hari kedua itu, beberapa orang masih menganggap Abu Nuwas waras. Makanya mereka bertanya apa yang dicari Abu Nuwas di siang hari dengan lampu di tangan. Abu Nuwas menjawab singkat:
‘’Saya sedang mencari neraka.’’ 

Ah, Abu Nuwas mulai gila, pikir mereka.
Maka, ketika di hari ketiga Abu Nuwas tetap melakukan hal yang sama: celingak-celinguk kanan-kiri di rumah orang, sambil tangannya yang membawa lampu minyak digoyang-goyangkan, orang-orang mulai tak sabar. Undang-undang Baghdad melarang orang gila berkeliaran. Berbahaya. Seseorang bisa membunuh orang lain dengan berpura-pura gila, atau mengintip orang mandi dengan pura-pura gila. 

Karena itu cerita selanjutnya mudah ditebak: Abu Nuwas ditangkap lalu diserahkan ke istana. Sejumlah musuh politik Harun Al-Rasyid malah gembira, kegilaan Abu Nuwas bisa mereka ‘’goreng’’ untuk menyudutkan wibawa khalifah.
Benar saja, khalifah Harun malu bukan main lalu bertanya dengan nada keras:
‘’Abu Nuwas, apa yang kamu lakukan dengan lampu minyak itu siang-siang?’’
‘’Hamba mencari neraka, paduka yang mulia,’’ jelas Abu Nuwas lancar, tak ada tanda-tanda dia gila.
‘’Kamu gila, Abu Nuwas. Sohih, kamu gila!’’
‘’Tidak paduka, merekalah yang gila.’’
‘’Siapa mereka?’’ 

Abu Nuwas lalu meminta orang-orang yang tadi menangkap dan menggiring dirinya menuju istana dikumpulkan di depan istana. Jumlah mereka ribuan – ya siapa orangnya yang tak menuduh Abu Nuwas gila jika khalifah sendiri menduganya gila? Setelah mereka berkumpul di depan istana, Abu Nuwas didampingi khalifah Harun mendatangi mereka. 

‘’Wahai kalian yang mengaku waras,’’ teriak Abu Nuwas kepada orang-orang di depannya, ‘’apakah kalian selama ini menganggap orang lain yang berbeda pikiran dan berbeda pilihan dengan kalian adalah munafik?’’
‘’Benaaaaar.’’
‘’Apakah kalian juga yang menyatakan para munafik itu sesat?’’
‘’Betuuuuuul. Dasar sesat!’’
‘’Jika mereka munafik dan sesat, apa konsekuensinya?’’
‘’Hai Abu Nuwas, kamu gila ya? Orang munafik pasti masuk neraka! Dasar munafik, kamu!’’
‘’Baik, jika saya munafik, sesat, dan masuk neraka, di mana neraka yang kalian maksud? Punya siapa neraka itu?’’ jawab Abu Nuwas dengan tenang, sambil kali ini lampu di tangannya diangkat tinggi-tinggi seolah dia mencari sesuatu.
Kali ini orang-orang di depan khalifah Harun mulai tak sabar. Mereka merasa diledek dengan mimik Abu Nuwas dan lampu di tangannya.
‘’Hai Abu Nuwas, tentu saja neraka ada di akhirat dan itu milik Allah. Kenapa kamu tanya?’’
‘’Paduka, mohon maaf,’’ kata Abu Nuwas kepada khalifah Harun. ‘’Tolong sampaikan pada mereka, jika neraka ada di akhirat dan yang punya neraka itu adalah Allah, kenapa mereka di dunia ini gemar sekali menentukan orang lain masuk neraka? Apakah mereka asisten Allah yang tahu bocoran catatan Allah? Atau jangan-jangan merekalah yang gila?’’
Ha-haaa-ha … Khalifah Harun Al-Rasyid tertawa kecil. Di matanya Abu Nuwas tetaplah lelaki jenaka. Dia lalu berkata sambil tertawa: ‘’Abu Nuwas, besok siang lanjutkan mencari neraka. Jika sudah ketemu, jebloskan orang-orang ini ke dalamnya … ‘’

Abu Nawas Menghilangkan Rukuk dan Sujud dalam Salat?

Suatu ketika terdengar desas-desus bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa yang ngawur dan memfitnah sang khalifah. Khalifah Harun al-Rasyid yang mendengar kabar itu pun marah besar pada Abu Nawas, Khalifah tidak peduli meskipun Abu Nawas sahabat karibnya, tapi di mata hukum Abu Nawas harus diadili dan mendapat hukuman yang setimpal.
Khalifah Harun al-Rasyid ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa tidak boleh rukuk dan sujud dalam salat.
Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah IniTerlebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu Nawas mengatakan bahwa dirinya adalah khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-pembantunya, Abu Nawas layak dipancung karena melanggar syariat Islam dan menyebar fitnah.
Amarah Khalifah Harun al-Rasyid mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya khalifah melakukan tabayun. Abu Nawas pun digeret menghadap khalifah.
Bacaan terkait:
Abu Nawas pun menjadi terdakwa atas berita yang beredar.
“Hai Abu Nawas, apa benar Kamu berpendapat tidak boleh rukuk dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah Harun ketus.
Abu Nawas menjawab dengan tenang, “Benar, Wahai Khalifah.”
Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, “Benar Kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”
Abu Nawas menjawab, ”Benar, Wahai Khalifah.”
Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, “Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!”
Abu Nawas tersenyum seraya berkata, “Wahai Khalifah, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap. Kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.”
Khalifah berkata dengan ketus, “Apa maksudmu? Jangan membela diri, Kamu telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.”
Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, “Wahai Khalifah, aku memang berkata rukuk dan sujud tidak perlu dalam salat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara salat jenazah yang memang tidak perlu rukuk dan sujud.”
“Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.
Abu Nawas menjawab dengan senyum, “Kalau itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surah al-Anfal, yang berbunyi:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian) bagimu dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, anda sangat menyukai kekayaan dan anak-anak, berarti anda suka ’fitnah’ (ujian).”
Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar. Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun al-Rasyid menyulut iri dan dengki di antara pembantu-pembantunya.
Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba melainkan sahabat yang karib. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutarbalikkan berita.

Abu Nawas Dan Penyamun


Abu Nawas

Karena kesulitan uang, Abu Nawas memutuskan untuk menjual keledai kesayangannya. Keledai itu merupakan kendaraan Abu Nawas satu-satunya. Sebenarnya ia tidak tega untuk menjualnya. Tetapi keluarga Abu Nawas amat membutuhkan uang. Dan istrinya setuju.
Keesokan harinya Abu Nawas membawa keledai ke pasar. Abu Nawas tidak tahu kalau ada sekelompok pencuri yang terdiri dari empat orang telah mengetahui keadaan dan rencana Abu Nawas. Mereka sepakat akan memperdaya Abu Nawas. Rencana pun mulai mereka susun. Ketika Abu Nawas beristirahat di bawah pohon, salah seorang mendekat dan berkata,
"Apakah engkau akan menjual kambingmu?" Tentu saja Abu Nawas terperanjat mendengar pertanyaan yang begitu tiba-tiba.
"Ini bukan kambing." kata Abu Nawas.
"Kalau bukan kambing, lalu apa?" tanya pencuri itu selanjutnya.
"Keledai." kata Abu Nawas.
"Kalau engkau yakin itu keledai, jual saja ke pasar dan dan tanyakan pada mereka." kata komplotan pencuri itu sambil berlalu. Abu Nawas tidak terpengaruh. Kemudian ia meneruskan perjalanannya. Ketika Abu Nawas sedang menunggang keledai, pencuri kedua menghampirinya dan berkata.
"Mengapa kau menunggang kambing?"
"Ini bukan kambing tapi keledai."
"Kalau itu keledai aku tidak bertanya seperti itu, dasar orang aneh. Kambing kok dikatakan keledai."
"Kalau ini kambing aku tidak akan menungganginya." jawab Abu Nawas tanpa ragu. "Kalau engkau tidak percaya, pergilah ke pasar dan tanyakan pada orang-orang di sana." kata pencuri kedua sambil berlalu.
Abu Nawas belum terpengaruh dan ia tetap berjalan menuju pasar. Pencuri ketiga datang menghampiri Abu Nawas,"Hai Abu Nawas akan kau bawa ke mana kambing itu?" Kali ini Abu Nawas tidak segera menjawab. Ia mulai ragu, sudah tiga orang mengatakan kalau hewan yang dibawanya adalah kambing. Pencuri ketiga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia makin merecoki otak Abu Nawas,
"Sudahlah, biarpun kau bersikeras hewan itu adalah keledai nyatanya itu adalah kambing, kambing... kambiiiiiing...!"
Abu Nawas berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah pohon. Pencuri keempat melaksanakan strategi busuknya. Ia duduk di samping Abu Nawas dan mengajak tokoh cerdik ini untuk berbincang-bincang.
"Ahaa, bagus sekali kambingmu ini...!" pencuri keempat membuka percakapan.
"Kau juga yakin ini kambing?" tanya Abu Nawas.
"Lho? ya jelas sekali kalau hewan ini adalah kambing. Kalau boleh aku ingin membelinya."
"Berapa kau mau membayarnya?"
"Tiga dirham!" Abu Nawas setuju.
Setelah menerima uang dari pencuri keempat kemudian Abu Nawas langsung pulang. Setiba di rumah Abu Nawas dimarahi istrinya. "Jadi keledai itu hanya engkau jual tiga dirham lantaran mereka mengatakan bahwa keledai itu kambing?"
Abu Nawas tidak bisa menjawab. Ia hanya mendengarkan ocehan istrinya dengan setia sambil menahan rasa dongkol. Kini ia baru menyadari kalau sudah diperdayai oleh komplotan pencuri yang menggoyahkan akal sehatnya. Abu Nawas merencanakan sesuatu. Ia pergi ke hutan mencari sebatang kayu untuk dijadikan sebuah tongkat yang nantinya bisa menghasilkan uang. Rencana Abu Nawas ternyata berjalan lancar. Hampir semua orang membicarakan keajaiban tongkat Abu Nawas. Berita ini juga terdengar oleh para pencuri yang telah menipu Abu Nawas. Mereka langsung tertarik. Bahkan mereka melihat sendiri ketika Abu Nawas membeli barang atau makan tanpa membayar tetapi hanya dengan mengacungkan tongkatnya. Mereka berpikir kalau tongkat itu bisa dibeli maka tentu mereka akan kaya karena hanya dengan mengacungkan tongkat itu mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Akhirnya mereka mendekati Abu Nawas dan berkata,
"Apakah tongkatmu akan dijual?"
"Tidak." jawab Abu Nawas dengan cuek.
"Tetapi kami bersedia membeli dengan harga yang amat tinggi." kata mereka.
"Berapa?" kata Abu Nawas pura-pura merasa tertarik.
"Seratus dinar uang emas." kata mereka tanpa ragu-ragu.
"Tetapi tongkat ini adalah tongkat wasiat satu-satunya yang aku miliki." kata Abu Nawas sambil tetap berpura-pura tidak ingin menjual tongkatnya.
"Dengan uang seratus dinar engkau sudah bisa hidup enak." kata mereka makin penasaran. Abu Nawas diam beberapa saat sepertinya merasa keberatan sekali.
"Baiklah kalau begitu." kata Abu Nawas kemudian sambil menyerahkan tongkatnya. Setelah menerima seratus dinar uang emas Abu Nawas segera melesat pulang. Para pencuri itu segera mencari warung terdekat untuk membuktikan keajaiban tongkat yang baru mereka beli. Seusai makan mereka mengacungkan tongkat itu kepada pemilik kedai. Tentu saja pemilik kedai marah.
"Apa maksudmu mengacungkan tongkat itu padaku?"
"Bukankah Abu Nawas juga mengacungkan tongkat ini dan engkau membebaskannya?" tanya para pencuri itu.
"Benar. Tetapi engkau harus tahu bahwa Abu Nawas menitipkan sejumlah uang kepadaku sebelum makan di sini!"
"Gila! Ternyata kita tidak mendapat keuntungan sama sekali menipu Abu Nawas. Kita malah rugi besar!" umpat para pencuri dengan rasa dongkol.