Jumat, 16 Oktober 2015

Ahli Nujum

Abu Nawas masih mengeram di penjara.
Namun begitu Abu Nawas masih bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan memakai tangan orang lain.
Baginda berpikir sejenak kemudian beliau segera memerintahkan sipir penjara untuk membebaskan Abu Nawas.

Baginda Raja tidak ingin menanggung resiko yang lebih buruk.
Karena akal Abu Nawas tidak bisa ditebak.
Bahkan di dalam penjara pun Abu Nawas masih sanggup menyusahkan prang.
Keputusan yang dibuat Baginda Raja untuk melepaskan Abu Nawas memang sangat tepat.
Karena bila sampai Abu Nawas bertambah sakit hati maka tidak mustahil kesusahan yang akan ditimbulkan akan semakin gawat.

Kini hidung Abu Nawas sudah bisa menghisap udara kebebasan di luar.
Istri Abu Nawas menyambut gembira kedatangan suami yang selama ini sangat dirindukan.
Abu Nawas juga riang.
Apalagi melihat tanaman kentangnya akan membuahkan hasil yang bisa dipetik dalam waktu dekat.

Abu Nawas memang girang bukan kepalang tetapi ia juga merasa gundah.
Bagaimana Abu Nawas tidak merasa gundah gulana sebab Baginda sudah tidak lagi memakai perangkap untuk memenjarakan dirinya.
Tetapi Baginda Raja langsung memenjarakannya.
Maka tidak mustahil bila suatu ketika nanti Baginda langsung menjatuhkan hukuman pancung.
Abu Nawas yakin bahwa saat ini Baginda pasti sedang merencanakan sesuatu.
Abu Nawas menyiapkan payung untuk menyambut hujan yang akan diciptakan Baginda Raja.

Pada hari itu Abu Nawas mengumumkan dirinya sebagai ahli nujum atau tukang ramal nasib.
Sejak membuka praktek ramal-meramal nasib, Abu Nawas sering mendapat panggilan dari orang-orang terkenal.
Kini Abu Nawas tidak saja dikenal sebagai orang yang handal dalam menciptakan gelak tawa tetapi juga sebagai ahli ramal yang jitu.

Mendengar Abu Nawas mendadak menjadi ahli ramal maka Baginda Raja Harun Al Rasyid merasa khawatir.
Baginda curiga jangan-jangan Abu Nawas bisa membahayakan kerajaan.
Maka tanpa pikir panjang Abu Nawas ditangkap.
Abu Nawas sejak semula yakin Baginda Raja kali ini berniat akan menghabisi riwayatnya.

Tetapi Abu Nawas tidak begitu merasa gentar.
Mungkin Abu Nawas sudah mempersiapkan tameng.

Setelah beberapa hari meringkuk di dalam penjara, Abu Nawas digiring menuju tempat kematian.
Tukang penggal kepala sudah menunggu dengan pedang yang baru diasah.
Abu Nawas menghampiri tempat penjagalan dengan amat tenang.
Baginda merasa kagum terhadap ketegaran Abu Nawas.
Tetapi Baginda juga bertanya-tanya dalam hati mengapa Abu Nawas begitu tabah menghadapi detik-detik terakhir hidupnya.

Ketika algojo sudah siap mengayunkan pedang, Abu Nawas tertawa-tawa sehingga Baginda menangguhkan pemancungan.

Beliau bertanya, "Hai Abu Nawas, apakah engkau tidak merasa ngeri menghadapi pedang algojo?"
"Ngeri Tuanku yang mulia, tetapi hamba juga merasa gembira." jawab Abu Nawas sambil tersenyum.
"Engkau merasa gembira?" tanya Baginda kaget.
"Betul Baginda yang mulia, karena tepat tiga hari setelah kematian hamba, maka Baginda pun akan mangkat menyusul hamba ke liang lahat, karena hamba tidak bersalah sedikit pun." kata Abu Nawas tetap tenang.

Baginda gemetar mendengar ucapan Abu Nawas.
dan tentu saja hukuman pancung dibatalkan.

Abu Nawas digiring kembali ke penjara.
Baginda memerintahkan agar Abu Nawas diperlakukan istimewa.
Malah Baginda memerintahkan supaya Abu Nawas disuguhi hidangan yang enak-enak.
Tetapi Abu Nawas tetap tidak kerasa tinggal di penjara.
Abu Nawas berpesan dan setengah mengancam kepada penjaga penjara bahwa bila ia terus-menerus mendekam dalam penjara ia bisa jatuh sakit atau meninggal Baginda Raja terpaksa membebaskan Abu Nawas setelah mendengar penuturan penjaga penjara.
Cita-cita atau obsesi menghukum Abu Nawas sebenarnya masih bergolak, namun Baginda merasa kehabisan akal untuk menjebak Abu Nawas.
Seorang penasihat kerajaan kepercayaan Baginda Raja menyarankan agar Baginda memanggil seorang ilmuwan ulama yang berilmu tinggi untuk menandingi Abu Nawas.
Pasti masih ada peluang untuk mencari kelemahan Abu Nawas.
Menjebak pencuri harus dengan pencuri.
Dan ulama dengan ulama.
Baginda menerima usul yang cemerlang itu dengan hati bulat.

Setelah ulama yang berilmu tinggi berhasil ditemukan, Baginda Raja menanyakan cara terbaik menjerat Abu Nawas.
Ulama itu memberi tahu cara-cara yang paling jitu kepada Baginda Raja.
Baginda Raja manggut-manggut setuju.
Wajah Baginda tidak lagi murung.

Apalagi ulama itu menegaskan bahwa ramalan Abu Nawas tentang takdir kematian Baginda Raja sama sekali tidak mempunyai dasar yang kuat.
Tiada seorang pun manusia yang tahu kapan dan di bumi mana ia akan mati apalagi tentang ajal orang lain.

Ulama andalan Baginda Raja mulai mengadakan persiapan seperlunya untuk memberikan pukulan fatal bagi Abu Nawas.
Siasat pun dijalankan sesuai rencana.
Abu Nawas terjerembab ke lubang siasat sang ulama.
Abu Nawas melakukan kesalahan yang bisa menghantarnya ke tiang gantungan atau tempat pemancungan.

Benarlah peribahasa yang berbunyi sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu saat akan terpeleset.
Kini, Abu Nawas benar-benar mati kutu.
Sebentar lagi ia akan dihukum mati karena jebakan sang ilmuwan-ulama.
Benarkah Abu Nawas sudah keok? Kita lihat saja nanti.
 
Rahmat_Mjeh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar