Kamis, 15 Oktober 2015

Nashrudin Hoja & Abu Nawas


Nashrudin Hoja & Abu Nawas


A.    Nashrudin Hoja
Nashrudin Hoja merupakan tokoh kocak pada kisah sufistik yang dikenal di seluruh dunia, terutama di negara-negara berpenduduk Muslim. Setiap kisah selalu menampilakannya dalam kondisi yang berbeda-beda melalui ide dan cara pandang humoris dan mengekspos komentar berani namun kocak dan penuh dengan hidup. Yang paling menarik dari cerita-cerita tokoh ini adalah meski lucu namun sarat dengan makna filosofis, sufistik; menggelitik nalar dan hati nurani.
Menurut berbagai sumber, sufi yang hidup di kawasan sekitar Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol ini merupakan seorang filosof yang bijak dan penuh dengan cita rasa humor. Kisah-kisah Nasrudin telah dikenal hampir di seluruh belahan dunia. Tentu saja, seluruh kisah tentang Hoja dengan rentang waktu lebih dari 7 abad, tidak semua asli darinya. Kebanyakan merupakan produk budaya humor secara kolektif bukan hanya dari Budaya Turki tapi juga dari masyarakat Islam lainnya. Meski begitu dikenal, Hoja merupakan tokoh yang masih diperdebatkan keberdaanya antara fiktif dan sejarah. Banyak teori tentang biografinya, namun sayangnya belum cukup memberikan data yang valid. 
Sejak Abad ke-16, tokoh ini semakin populer karena ia menawarkan alternatif kepada masyarakat yang mulai bosan terhadap segala hal sifatnya formal dan kaku. Kisah tentang Nashrudin Hoja pada awalnya ditemukan dalam beberapa manuskrip pada awal abad ke-15. Cerita pertama ditemukan dalam Ebu'l-Khayr-i Rumis Saltuk-name (1480). Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Nashrudin merupakan murid sufi dari Sayyid Mahmud Hayrani di Aksehir, barat laut Turki modern.
Pada abad ke-19, Mufti Sivrihisar, Husein Efendi, menulis dalam Mecmua-i Maarif bahwa Nashrudin lahir pada 1208 di desa Hortu (sekarang disebut Nasreddin Hoca Koyu) bagian dari Sivrihisar dan meninggal 1284 di Aksehir, setelah hijrah ke sana. Menurut sumber ini, Hoja belajar di Sivrihisar dan madrasah Konya. Hoja belajar fiqh serta belajar tasawuf  langsung pada Maulana Jalaluddin ar-Rumi (1207-1273) di Konya. Kemudian Hoja mengikuti Sayyid Mahmud Hayrani, sebagi guru sufi keduanya, hijrah ke Aksehir dan menikah di sana.
 Konon, Sewaktu masih muda, Nasrudin selalu membuat ulah yang menarik bagi teman-temannya, sehingga mereka sering lalai akan pelajaran sekolah. Maka gurunya yang bijak bernubuwat: “Kelak ketika engkau sudah dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apapun kata-katamu, orang-orang akan menertawaimu.” Ramalan pun menjadi kenyataan.
Di Aksehir, Hoja menjadi Imam dan Hakim. Karena rasa humor yang tinggi dan ulasan-ulasanya yang cemerlang, ia menjadi sangat tersohor dan terkemuka di kota itu.
Kisah-kisah Nasrudin Hoja dikenal di seluruh Timur Tengah yang tentu kemudian diwarnai dengan budaya di mana cerita itu berkembang. Yang jelas, kebanyakan kisah Nasrudin diceritakan sebagai kisah lucu dan anekdot. Kisah-kisah ini tidak henti-hentinya diceritakan baik di kafe, di tempat orang-orang berkumpul untuk ngobrol, serta di rumah sebagi bahan cerita untuk anak. Meski begitu akrabnya kisah Hoja dengan masyarakat, satu karakter yang tetap melekat pada kisah Hoja ini adalah inti yang terkandung dari kisah lucu tersebut hanya orang-orang pada level inteletual tertentu yang mampu memahaminya. Kisah-kisah lucu namun kaya akan pesan moral, biasanya bahkan penuh dengan pesan-pesan spiritual yang mencerahkan dan tak jarang juga memuat perilaku dan jalan menuju maqam makrifatullah. Karena itulah, tak jarang kisah-kisah Hoja ini menjadi materi pengajian sufi. 
Kisah-kisah Hoja juga sarat dengan sindiran dan kritik yang cukup berani terhadap tirani dan kekuasan serta ketimpangan sosial dan egoisme elit. Karena itulah, Nasrudin merupakan simbol keberanian, penentangan, sarkastis, ironis, dan komedi kritis di Timur Tengah. 
Di Indonesia, kemasyhuran Nasrudin Hoja hampir tidak kalah dengan Abu Nawas. Di tengah dahaga kaum Muslim Indonesia akan nilai-nilai spiritual, beberapa buku yang memuat kisah-kisah Nasrudin Hoja pun laris manis di pasaran.
Nashrudin Hoja adalah legenda dari masa kejayaan Islam pada periode abad ke-13. Legendanya tersebar dari mulai Turki, Persia, sampai ke pecahan negara-negara Soviet yang warganya banyak menganut Islam, seperti Tajikistan atau Kazakhstan.
Ada banyak versi tentang asal kelahiran Nashrudin. Tapi semua versi rata-rata memang mengiyakan kalau ia hidup di abad ke-13. Sumber tertua tentang kehidupan Nashrudin ini termuat dalam buku terbitan tahun 1480 yang berjudul Saltukname.
Dalam buku itu disebutkan kalau Nashrudin di Sivrihisar, salah satu kawasan di Turki, pada 1208. Dari situ ia berkelana ke banyak tempat sampai akhirnya ia wafat pada 1284. Ada yang menyebutkan ia wafat di Konya, kota penting dalam tradisi sufisme dan mistisme Islam, karena di sanalah Jalaluddin Rumi membangun dan mendirikan thariqah Maulawiyah, yang terkenal dengan tarian sama’nya yang berputar-putar (dengan kedua tangan merentang ke samping, satu telapak tangan menghadap ke atas, satu telapak tengan menghadap ke bawah).
Hoja yang ada di belakang nama Nashrudin sendiri kurang lebih berarti teacher atau scholar. Sedemikian populernya karakter Nashrudin, sampai-sampai di Turki pada setiap bulan Juli digelar “International Nashrudin Hoja Festival”. Pada 1996-1997, UNESCO pernah mendeklarasikan tahun itu sebagai “International Nasruddin Year”.
Kisah-kisah Nashrudin yang kita baca dan kita dengar kemungkinan diambil dari kompilasi kisah-kisah yang dikumpulkan penulis Afghanistan, Idris Shah, yang sempat menerbitkan tiga volume buku tentang kisah-kisahnya.
Paulo Coelho, dari wawancaranya di New York Book Review beberapa tahun lalu, menyebut Nashrudin sebagai “Si Bijak dari Timur”.
Bagi kalangan Islam, terutama mereka yang aktif sebagai penghayat sufisme dalam pelbagai thareqah, kisah-kisah Nashrudin sering digunakan sebagai alegori dalam pengajaran-pengajaran sufisme. Salah satu ciri dari pengajaran sufisme memang terletak pada –selain menekankan pada laku alias praktik– penyampaian-penyampaian nilai-nilai agama melalui kisah, anekdot, alegori, fabel dan yang sejenisnya, ketimbang menggunakan teori-teori al-Falasifa yang dikembangkan para failasuf.
B.     Abu Nawas
Riwayat Abu Nawas/Abu Nuwas ini jauh lebih seru daripada Nashrudin. Yang mengherankan, kenapa Abu Nawas dikesankan sebagai seorang yang cenderung konyol, orang bijak yang senang bermain-main atau memain-mainkan nasehat, atau guru sufi yang “sangat saleh” atau yang sejenisnya. Lebih dari sekadar itu, ia adalah seorang pemberontak pada masanya, mungkin seperti Marquis de Sade pada era Napoleon yang bengalnya ga ketulungan (kata “sado” –yang berarti “sadis”– dalam frase sado-masokis diambil dari namanya).
Abu Nawas memang bisa ditemukan dalam salah satu versi cerita “1001 Malam”. Perlu diingat, kisah 1001 Malam itu ditulis tidak sekali jadi, bahkan plot awalnya dipercaya sudah muncul sejak masa pra-Islam. Selanjutnya, kisah itu berkembang sedemikian rupa, di banyak wilayah, dengan melibatkan banyak penulis dan pujangga, dengan versi yang juga beragam. Nah, Abu Nawas masuk dalam salah satu versi itu.
Tapi menganggap Abu Nawas sebagai tokoh fiksi jelas keliru. Abu Nawas adalah sosok historis, benar-benar ada, pernah hidup. Ia diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-8, antara tahun 740 sampai 760-an, kira-kira seabad setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw.
Ayahnya anggota tentara Marwan II, angkatan perang terakhir Umayah, berdarah Arab, sementara ibunya berasal dari Persia. Arab dan Persia merupakan dua kebudayaan besar yang punya tradisi susastra yang kuat dan panjang, sehingga –tidak bisa tidak– Tuhan pun harus menurunkan al-Qur’an dengan capaian nilai sastra yang adiluhung, sebab jika tidak, al-Qur’an akan dengan mudah dilecehkan sebagai tak lebih dari syair picisan.
Dalam situasi itulah Abu Nawas tumbuh dengan minat yang besar dalam bidang bahasa dan sastra. Ketika menetap di Baghdad, ia sudah matang sebagai penyair dan cendekiawan. Kisah-kisah di mana Abu Nawas yang sering berdialog atau ngerjain sultan, kemungkinan terjadi di Baghdad ini, karena ia dipercaya memang akrab dengan Khalifah Harun ar-Rasyid, atau bahkan dianggap sebagai penyair kesayangan Khalifah.
Sutardji Calzoum Bachri yang dulu demen mabok pas baca puisi, bisa dibilang ndak ada apa-apanya dibandingkan dengan Abu Nawas. Abu Nawas dikenal sebagai penyair yang senang mabok, pesta-pora dengan anggur dan khamr.
Salah satu kisah legendaris menyebut Abu Nawas pernah kedapatan tepar di jalan raya tepat saat Khalifah lewat bersama salah satu istrinya. Ini membuat Khalifah malu bukan kepalang karena penyair kesayangannya bertingkah gila-gilaan macam itu. Biar bagaimana pun, pada saat itu, juga hingga sekarang, khamr memang dilarang dalam standar kode hukum Islam.
Nah, di situlah salah satu lapis kehidupan Abu Nawas yang tak banyak diketahui orang. Kehidupan Abu Nawas dan puisi-puisinya penuh dengan perayaan hidup yang untuk masanya bisa dianggap hedonis. Ia senang mabuk-mabukan. Bukan hanya itu, ia juga salah seorang yang dianggap menganjurkan perayaan seksual, termasuk hubungan sejenis kelamin.
Ada banyak riwayat yang mengisahkan kisah cinta Abu Nawas dengan beberapa anak lelaki. Semua itu banyak ditemukan dalam puisi-puisinya. Dalam buku puisi Perfumed Garden karangannya, mudah sekali ditemukan nuansa-nuansa yang menggambarkan hubungan seksual, termasuk hubungan sejenis.
Dari esai Javad Nurbhaks di jurnal Kalam, mungkin Abu Nawas adalah penyair Arab pertama yang sudah menyebut masturbasi dalam puisi-puisinya. Tapi ini pasti satu tradisi yang sudah panjang, karena bahkan Yesus dari Nazareth pun minum anggur pada saat perjamuan terakhir dan anggur (bukan tradisi penyimpangan seksualnya) juga menjadi salah satu komponen penting dalam sejumlah ritual ibadah umat Nasrani.
Tidak mengherankan, saat rezim berganti, ia pun akhirnya mengalami pengasingan. Bukan hanya Khalifah yang baru tidak senang padanya, tapi saudaranya juga ada yang jengah dengan keliaran hidup seorang Abu Nawas.
Khamr dan hubungan intim sejenis sebenarnya bukan tema yang asing. Sudah biasa dalam tradisi sufi, anggur menjadi bagian tak terpisahkan. Anggur dianggap sebagai alegori dari kenikmatan penyatuan dengan yang serba surgawi. Jalaluddin Rumi itu senang sekali dengan anggur. Anggur bertaburan dalam puisi panjangnya yang dahsyat dan terkenal itu, al-Mastnawi
Sudah sangat biasa pula para sufi luntang-lantung dengan murid-murid laki-lakinya. Rumi lagi-lagi jadi kisah paling ilustratif tentang ini. Hubungannya dengan tiga guru utamanya, terutama guru pertamanya yaitu Syams dari Tabriz, sangatlah intim. Sampai-sampai, saat Syams menghilang dari Konya, Rumi benar-benar patah hati, kerjaannya cuma nyanyi-nyanyi dan menari-nari di jalanan Konya. Ia ndak mau ngajar murid-muridnya yang lain. Saat Syams kembali, pulihlah normalistas kehidupan Rumi. Saat Rumi sedang mengerjakan karya agung al-Matsnawi, Rumi saat itu sudah ditinggal Syams kembali berkelana dan “berguru” pada Hisyamuddin. Saat Hisyamuddin kembali ke kampungnya selama beberapa waktu, Rumi tiba-tiba jadi stuck dan ndak bisa menulis al-Mastnawi lagi.
Salah satu penyair Arab yang terpengaruhi oleh Abu Nawas adalah Omar Khayam, yang berhasil mempopulerkan genre puisi rubayyat yang pada masanya dianggap syair-syair picisan. Jika merujuk novel sejarah tentang Khayam yang ditulis Amin Maalouf (sudah diterjemahkan oleh penerbit Serambi), di situ Khayam seperti Abu Nawas, seorang cendekiawan dan penyair yang free thinker, senang minum anggur, dan menjalin kisah asmara nan menggelora dengan –kali ini normal– seorang perempuan di luar pernikahan.

Siapakah Abu Nawas?

 

Ilaahii lastu lilfirdausi ahlan # Walaa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi...

Fahab lii tawbatan waghfir dzunuubii # Fainnaka ghaafirudzdzanbil adziimi...

“Tuhanku, hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus) # Namun, hamba juga tidak kuat menahan panasnya api neraka...
Maka berilah hamba taubat dan ampunilah hamba atas dosa-dosa hamba # Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosan yang besar...”
Dua bait syair di atas tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama kaum tradisionalis Islam. Beberapa saat menjelang shalat Magrib atau Shubuh, jamaah di masjid-masjid atau mushalla di pedesaan biasanya mendendangkan syair tersebut dengan syahdu sebagai puji-pujian. Konon, kedua bait tersebut adalah hasil karya tokoh kocak Abu Nawas. Ia adalah salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah 1001 Malam.
Bagi masyarakat Islam Indonesia, nama Abu Nawas atau Abu Nuwas (Bahasa Arab:ابونواس) juga bukan lagi sesuatu yang asing. Abu Nawas dikenal terutama karena kelihaian dan kecerdikannya melontarkan kritik-kritik tetapi dibungkus humor. Mirip dengan Nashrudin Hoja, sesungguhnya ia adalah tokoh sufi, filsuf, sekaligus penyair. Ia hidup di zaman Khalifah Harun ar-Rasyid di Baghdad (806-814 M).
Selain cerdik, Abu Nawas juga dikenal dengan kenyentrikkannya. Sebagai penyair, mula-mula ia suka mabuk. Belakangan, dalam perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah dan kehidupan sejati, ia menemukan kehidupan rohaniahnya yang sejati meski penuh liku dan sangat mengharukan. Setelah mencapai tingkat spiritual yang cukup tinggi, inspirasi puisinya bukan lagi khamr, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Ia tampil sebagai penyair sufi yang tiada banding.
Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.
Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai spiritual, disamping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman.
Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.
Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.
Dalam Al-Wasith fi al-Adab al-‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun ar-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wausuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad).
Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun ar-Rasyid meninggal dan digantikan oleh al-Amin.
Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah. Dua bait syair di atas merupakan salah satu syairnya yang dapat dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa spiritual yang dalam.
Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun ar-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan –tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.
Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf  bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.
Mengenai tahun meninggalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Naubakhti –yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.
Sejumlah puisi Abu Nawas dihimpun dalam Diwan Abu Nuwas yang telah dicetak dalam berbagai bahasa. Ada yang diterbitkan di Wina, Austria (1885), di Greifswald (1861), di Kairo, Mesir (1277 H/1860 M), Beirut, Lebanon (1301 H/1884 M), Bombay, India (1312 H/1894 M). Beberapa manuskrip puisinya tersimpan di perpustakaan Berlin, Wina, Leiden, Bodliana, dan Mosul.
Salah satu cerita menarik berkenaan dengan Abu Nawas adalah saat menjelang sakaratul mautnya. Konon, sebelum mati ia minta keluarganya mengkafaninya dengan kain bekas yang lusuh. Agar kelak jika Malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya, Abu Nawas dapat menolak dan mengatakan: “Tuhan, kedua malaikat itu tidak melihat kain kafan saya yang sudah compang-camping dan lapuk ini. Itu artinya saya penghuni kubur yang sudah lama.”
Tentu ini hanyalah sebuah lelucon, dan memang kita selama ini hanya menyelami misteri kehidupan dan perjalanan tohoh sufi yang penuh liku dan sarat hikmah ini dalam lelucon dan tawa.
Refferensi:
·         Diwan Abu Nuwas
·         Al-Wasith fi al-Adab al-‘Arabi wa Tarikhihi
·         Kisah-kisah Sufi, Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau, Idries Shah.
·         Dari esai Javad Nurbhaks di jurnal Kalam
·         Buku puisi Perfumed Garden
·         Mecmua-i Maarif, Mufti Sivrihisar Husein Efendi
·         Buku Kisah “1001 Malam”
·         Buku Classic Saltukname (Ebu'l-Khayr-i Rumis Saltuk-name)
·         http://sufinews.com
·         http://www.republika.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar