Kamis, 15 Oktober 2015

biografi singkat Abu Nawas

biografi singkat Abu Nawas

Biografi Singkat,karya dan pemikiran Abu Nawas.
Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kotaAhvazdi negeri Persia(Iransekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persiamengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persiayang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kotainilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.
Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman. Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.
Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.
Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad).
Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.
Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah. Dua bait syair di atas merupakan salah satu syairnya yang dapat dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa spiritual yang dalam.
Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.
Abu nawas adalah salah seoraang penyair arab. Dalam bidang sastra arab dia sangat dihormati oleh kalangan terpelajar, terutama pelajar dari perancis. Dia termasuk salah seorang tokoh penyair mazhab baru pilihan kritikus sastra Arab bahkan disejajarkan dengan penyair modern seperti Imru’ al-Qays dan al-Qudami.
Pada masa awal pemerintahan Abbasiyah, orang-orang Arab membuka kesempatan kepada penduduk negara taklukan yang menguasai bahasa dan memiliki bakat dalam bidang syair untuk menerjuni dunia kepenyairan.Bentuk-bentuk syair lama tidak mereka tinggalkan, bahkan digabungkan dengan bentuk syair yang makna dan bangunan sastranya paling realistis.Mereka tidak mengikuti aturan pembuatan kasidah yang panjang, tangisan panjang, atau melukiskan unta dan lain-lain pada zaman Badui.Mereka melakukan pembaruan dalam makna dan bentuknya yang paling sesuai dengan zaman itu.Pertarungan tradisi sperti itu dimenangkan oleh para penyair beraliran modern, seperti Basyar ibn Burd, Abu Nawas, dan Ibn al-Rumi secara khusus.
Abu Nawas dibesarkan di kota Basrah.Setelah berbaur dengan orang Arab asli, dia dapat berbicara bahasa Arab dengan fasih.Dalam hal ini, al-Jahizh sampai mengatakan “Aku belum pernah mengenal seseorang yang sangat pandai dalam bahasa Arab melebihi Abu Nawas.Dialeknya pun sangat fasih, enak didengar, dan tidak pernah memakai kata-kata yang rancu, yang tidak enak didengar.
Meskipun bahasanya sangat baik, dia banyak menggunakan kata-kata asing dan ungkapan-ungkapan modern.Dia juga tergelincir dalam kesalahan yang umum dilakukan oleh para pendahulunya.Yaitu, bahasa yang gampang dan mudah diucapkan. Bahasa yang mengandung muatan makna baru yang sangat enak di telinga.Abu Nawas pada saat itu juga berfungsi sebagai cermin bagi dirinya dan orang-orang yang hidup sezaman dengannya, khususnya yang berkaitan dengan ejekannya terhadap kemaksiatan.
Tidak banyak pujian yang dia pergunakan. Dia memakai bentuk-bentik tradisional yang meninggalkan duka yang dalam. Dalam syair-syairnya yang berbentuk ghazal saja yang banyak mmemakai bentuk emosional sejauh yang lazim dilakukan. Bagaimanpun baiknya dia terlibat dalam pemakaian khomr dan homoseksual. Dia kerap kali melakukan dua hal tersebut, bahkan melukisksnnysa dalam hal sangat menarik. Dia tidak menjauhi celaan atas dirinya at u badannya yang mulai digerogoti penyakit. Dia  tidak pernah menutup-nutupi kesalahan terhadap  dirinya, tidak akn mampu mencegahnya bahkan dirinya semakin  bartambah parah. Sambil menjelaskan bahwa keinginannya tidak dapat diperbaaiki sampai keliang lahat. Dia membanggakan diri bahwa dia tidak pernah meninggalkan sesutu yang membut tuhannya marah, seperti syirik. Kenyattaanya syair-syairnya yang menafikan islam bukan bersumber dari akal dirinya sendiri, tapi dari kecintaan melakukan mut’ah bahwa yang dia lihat hukum islam ada diantara dirinya dan mut’ah tersebut. Dia masih berbercita-cita meminta ampun kepada Allah, dia yakin bahwa Allah tidak akan menyiksa dirinya  karena perbutan yang telah dilakukannya. Dia menulis kosidah yang sangat elok tentang al-mahdi yang menurut sebagian orang , dia tulis pada masa tuanya  ketika dia telah berobat, pada saat orang lain melihat bahwa tidak cukup baginya  alasan untuk berobat.
Kasidah itu disusun pada saat kondisi jiwanya sangat liar. Adapun kasidah tentang wanita sngatlah sedikit dibandingkan kasidah tentang keasyikan hidup pada masa kanak-kanak yang dia tulis. Sebagian oranng menyatakan bahwa dia tidak pernah jatuh cinta kepada permpuan kecuali seorang budak belian yang bernama jannan.
Meskipun Abu nawas banyak menulis syair tentang pahlawan persia, bahkan  penyair yang nasionalis. Karena sesungguhnya sama sekali  tidak pernah terasakan bahwa dia nasionalis dari syair  yang dia tulis tersebut, kecuali bahwa didalamnya terdapat unsur dinasti Abbasiyah yang sedikit-sedikit yang telah dipengaruhi dinasti  iran. Rasa nasionalisme Abu nawas  terdapat pada revolusinya terhadap saatr lama. Kumpulan tulisannya muncul pertama kali dalam sejarah saatra arab  dalam bab khusus yang berisi “kaidah-kaidah berburu” yang bercerit tentng anjing-anjing berburu, burung elang, kuda dan binatang buruan laiinya, dan cara berburu menurut gambaran orang badui. Satu bab yang dimlai Abu Nawas kemudian dikembagkannya lagi, lalu dilanjutkan oleh Ibn al Mu’taz.
Sebetulnya Abu Nawas ridak pernah mengumpulkn syair-syairnya. Karena itu syair-syairnya banyak yang hilang (khususnya syair yang dituliskan di Mesir). Di samping itu, banyak sekali hal-hal yang dinisbatkan kepadanya; apalagi syair-syair yang berkernaan dengan khamar dan homoseksual. Sampai haripun kita masih mencetak syair-syairnya setelah kita teliti betul keaslian syair tersebut. Kita juga perlu menulis ulang riwatat hidupnya  laylah yang sama sekali bersih dari hal-hal yang mendiskreditkannya, seperti dalam kitab a Alf walaialah (Kisah Seribu Satu Malam) dan kisah-kisah kerakyatan lainnya yang memberikan citera buruk baginya diantar para pembaca Arab;citr yang menjadikannya lebih dekat kepada citera seorang pelawak dari pada seorang penyair.
ada Ramadhan lalu saya mendengar di sebuah mesjid dilantunkan sebuah syair dengan irama yang saya kenal, ternyata syair Abu Nawas ( Al I’tiraf ) dalam bahasa Sunda, syair tersebut dibacakan oleh imam yang merangkap sebagai muadzin sekaligus petugas kebersihan di masjid tersebut. Saya kurang mengerti Bahasa Sunda dan minta tolong untuk menuliskan syair tersebut di secarik kertas, nah berikut ini syairnya …

Punten ka Gusti abdi sanes ahli surga
Namun te kiat nahan panas naraka
Mugi Gusti kersa maparinan taubat
Ngahampura dosa abdi anu lepat
Ya Allah, saya bukanlah hambaMu yang pantas memasuki surga firdausMu
Tidak juga saya mampu akan siksa api nerakaMu
Berilah hambaMu ini ampunan dan hapuskanlah dosa-dosaku
Sesungguhnya hanya Engkaulah Sang Maha Pengampun Yang Maha Agung

Dosa-dosaku bak butiran pasir dipantai
Anugrahilah ampunanMu wahai Yang Maha Agung
Umurku berkurang setiap hari
sedang dosa-dosaku terus bertambah
Ya Allah, hambaMu yang penuh maksiat ini bersimpuh menghadapMu
mengakui dosa-dosanya dan memohon padaMu
Ampunilah, karena hanya Engkaulah Sang Pemilik Ampunan
Bila Kau campakkan aku, kepada siapa dan kemana aku mesti berharap selain dariMu?

Ilahi lastu lil firdausi ahla
Wala aqwa ‘ala naril jahimi
Fahab li tawbatan waghfir dzunubi.
Fainaka ghafirud dzanbil adzimi
 
Artinya:Tuhanku, Hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).
Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.
Maka berilah hamba tobat dan ampunilah hamba atas dosa-dosa hamba.
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Mahaagung

Dua bait syair di atas tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama kaum tradisionalis Islam. Beberapa saat menjelang shalat Magrib atau Subuh, jemaah di masjid-masjid atau musala di pedesaan biasanya mendendangkan syair tersebut dengan syahdu sebagai puji-pujian. Konon, kedua bait tersebut adalah hasil karya tokoh kocak Abu Nawas. Ia adalah salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah 1001 Malam.
Bagi masyarakat Islam Indonesia, nama Abu Nawas atau Abu Nuwas juga bukan lagi sesuatu yang asing. Abu Nawas dikenal terutama karena kelihaian dan kecerdikannya melontarkan kritik-kritik tetapi dibungkus humor. Mirip dengan Nasrudin Hoja, sesungguhnya ia adalah tokoh sufi, filsuf, sekaligus penyair. Ia hidup di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814M)
Selain cerdik, Abu Nawas juga dikenal dengan kenyentrikkannya. Sebagai penyair, mula-mula ia suka mabuk. Belakangan, dalam perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah dan kehidupan sejati, ia menemukan kehidupan rohaniahnya yang sejati meski penuh liku dan sangat mengharukan. Setelah mencapai tingkat spiritual yang cukup tinggi, inspirasi puisinya bukan lagi khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Ia tampil sebagai penyair sufi yang tiada banding.
intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad).
Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan Al-Amin.
Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah. Dua bait syair di atas merupakan salah satu syairnya yang dapat dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa spiritual yang dalam.
Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan  tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar